Sebagian dari bangunan raksasa ‘Jahiliyah Modern’ kini telah runtuh jadi puing. Rayap kematian telah memangsa semua sendi kekuatannya. Tak da lagi jarak yang tersisa antara saat ini dengan keruntuhan totalnya, selain tegaknya bangunan raksasa Islam di atas puingnya. Ibarat tongkat yang emnyangga Nabi Sulaiman, kita hanya menyentilnya dengan sepoi jihad. Dan gedung jahiliyah itu niscaya jadi bubuk kehinaan.
Tapi mungkin masalah sebenarnya tidak pada penantian saat keruntuhan total bangunan jahiliyah modern itu. Bukan itu masalahnya. Ia pasti hancur, cepat atau lambat.
Problem dasar kita adalah bagaimana menegakkan bangunan Islam sebagai alternatif pengganti. Pada titik ini, target yang ahrus dicapai dalam ’amal islami adaalh membuat rekayasa bangunan islam itu secraa kongkret.
Sudah saatnya ’amal islami memiliki orientasi rekayasa amsa depan yang lebih menyeluruh. Kenyataan ini menuntut lahirnya pentolan Harakah Islamiyah yang memiliki kualifikasi pemikiran engineer serta visi strategis. Maksudnya adalah orang yang sanggup mendiagnosa realitas umat secara tajam, menawarkan penyelesaian serta penentuan ’amal islami, dalam sebuah kerangka pemikiran peradaban yang utuh.
Perumusan suatu kerangka prioritas kerja dalam ’amal islami, hanya dapat dilakukan bila ada kemampuan mendiagnosa masalah, menetukan alternatif pemecahan, serta sebuah visi konsepsional islam yang matang. Dalam konteks ini, tak ada tempat bagi pemikiran yang sepenggal – sepenggal, tidak realistis, dan tidak menyelesaikan masalah.
’Aqliyatul Handasah (Pemikiran Rekayasa) pada gilirannya akan menyelesaikan sebuah musykil yang selama ini terasa sangat mengganjal optimalisasi pemanfaatan seluruh daya dan potensi kita, baik manusia maupun alam. Karena dalam bangunan Islam yang besar itu, rak ada tangan yang tak bergerak, atau kaki yang tak melangkah, atau sawah yang kering di tepi sungai yang luas.
Bila suatu ketika Anda menyaksikan ribuan anak –anak Afrika mati kelaparan di tengah ladang dan sawah luas negeri mereka, Anda tak perlu menangisi kematian mereka. Semestinya yang kita tangisi adalah hilangnya ’Aqliyatul Handasah dari pemimpin – pemimpin mereka dalam program pembangunan mereka.
(Anis Matta, dalam bukunya = ‘Arsitek Peradaban ‘)
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://jasmiati.blogsome.com/2008/04/19/aqliyatul-handasah/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>