‘AQLIYATUL HANDASAH
April 19, 2008

    Sebagian dari bangunan raksasa ‘Jahiliyah Modern’ kini telah runtuh jadi puing. Rayap kematian telah memangsa semua sendi kekuatannya. Tak da lagi jarak yang tersisa antara saat ini dengan keruntuhan totalnya, selain tegaknya bangunan raksasa Islam di atas puingnya. Ibarat tongkat yang emnyangga Nabi Sulaiman, kita hanya menyentilnya dengan sepoi jihad. Dan gedung jahiliyah itu niscaya jadi bubuk kehinaan.

 

     Tapi mungkin masalah sebenarnya tidak pada penantian saat keruntuhan total bangunan jahiliyah modern itu. Bukan itu masalahnya. Ia pasti hancur, cepat atau lambat.

 

     Problem dasar kita adalah bagaimana menegakkan bangunan Islam sebagai alternatif pengganti. Pada titik ini, target yang ahrus dicapai dalam ’amal islami adaalh membuat rekayasa bangunan islam itu secraa kongkret.

 

     Sudah saatnya ’amal islami memiliki orientasi rekayasa amsa depan yang lebih menyeluruh. Kenyataan ini menuntut lahirnya pentolan Harakah Islamiyah yang memiliki kualifikasi pemikiran engineer serta visi strategis. Maksudnya adalah orang yang sanggup mendiagnosa realitas umat secara tajam, menawarkan penyelesaian serta penentuan ’amal islami, dalam sebuah kerangka pemikiran peradaban yang utuh.

  

      Perumusan suatu kerangka prioritas kerja dalam ’amal islami, hanya dapat  dilakukan bila ada kemampuan mendiagnosa masalah, menetukan alternatif pemecahan, serta sebuah visi konsepsional islam yang matang. Dalam konteks ini, tak ada tempat bagi pemikiran yang sepenggal – sepenggal, tidak realistis, dan tidak menyelesaikan masalah.

  

     ’Aqliyatul Handasah (Pemikiran Rekayasa) pada gilirannya akan menyelesaikan sebuah musykil yang selama ini terasa sangat mengganjal optimalisasi pemanfaatan seluruh daya dan potensi kita, baik manusia maupun alam. Karena dalam bangunan Islam yang besar itu, rak ada tangan yang tak bergerak, atau kaki yang tak melangkah, atau sawah yang kering di tepi sungai yang luas.

   

     Bila suatu ketika Anda menyaksikan ribuan anak –anak Afrika mati kelaparan di tengah ladang dan sawah luas negeri mereka, Anda tak perlu menangisi kematian mereka. Semestinya yang kita tangisi adalah hilangnya ’Aqliyatul Handasah dari pemimpin – pemimpin mereka dalam program pembangunan mereka.

(Anis Matta, dalam bukunya = ‘Arsitek Peradaban ‘) 



“ Breaking The Time ”
November 2, 2007

         Panduan Praktis bagi Aktivis dan Orang – orang Sibuk agar dapat Memenuhi Berbagai Tugas dan Tanggung Jawabnya

Penulis :  Satria Hadi Lubis, MM., MBA

Penerbit            :  Kreasi Cerdas Utama

Buku ini memberikan panduan pada kita bagaimana cara mencapai sukses yang kita idam – idamkan dengan cara mengelola waktu kita dengan lebih baik lagi. Di dalamnya disajikan beberapa tahapan untuk mengatur waktu dengan metode Breaking The Time. Tahapan tersebut adalah :

Tahapan I

Membuat Misi

“Bagianmu yang sesungguhnya dari dunia ini ialah yang memberimu kemuliaan diri”

(Ali bin Abu Thalib)

Mengendalikan waktu dengan metode Breaking The Time dimulai dari membuat misi. Sebab misi menjawab pertanyaan yang paling mendasar dari keberadaan kita di dunia. Siapa sebebnarnya kita? Dan apa maksud keberadaan kita di dunia?. Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda – beda. Namun sadar atau tidak, jawaban tersebut mencerminkan misi hidup kita. Misi adalah kristalisasi nilai, azas hidup, intisasi nilai, dan dasar kepribadian. Ada dua macam misi, yaitu misi hidup positif dan misi hidup negatif.

Ciri misi: luhur, fleksibel, menarik,spiritual, jelas, dan singkat. Cara membuat misi adalah :

Langkah I  : Menjawab enam unsur misi :

1. Siapa saya?

2. Mengapa saya ada?

3. Apa keunggulan/ Kelebihan yang saya miliki?

4. Untuk siapa saya bekerja?

5. Apa hasil/ produk dari pekerjaan saya?

6. Dimana saya mengerjakannya?(opsional)

Langkah II: Menggabungkan jawaban pertanyaan tentang misi menjadi satu atau beberapa kalimat.

Tahapan II

Menentukan Peran

“Barang siapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan” (Shakespeare)

Misi hidup tak ada gunanya jika tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari – hari. Peran adalah posisi atau kedudukan di mana seseorang diharapkan melakukan perilaku tertentu. Ada peran yang utama, ada pula peran pembantu. Orang yang tidak seimbang dalam memenuhi semua perannya kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dan kekecewaan hidup.

Keseimbangan antar peran & Menciptakan sinergi antar peran : Peran merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang amat saling terkait, di mana masing – masing peran merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Sebagaimana dikatakan oleh Gandhi, “Orang tidak dapat melakukan sesuatu yang benar dalam sqtu bidang kehidupan sementara dia sibuk melakukan kesalahan di bidang lain. Kehidupan adalah satu keseluruhan yang tak terbagi”.

Keseimbangan berarti bahwa semua bagian beroperasi secara bersama - sama secara sinergis dalam suatu keseluruhan yang amat saling terkait.

Langkah Aplikatif untuk menentukan peran :

Langkah I       :  Menginventarisir Peran (mendata peran)

Langkah II :  Menyeleksi Peran (menyisihkan peran yang tidak sesuai atau mengumpulkan peran – peran yang sejenis).

Tahapan III

Membuat Visi Peran

“Visi membuat kita bergairah dengan pemahaman akan sumbangan khas yang dapat kita buat” (Stephen R. Covey)

Visi ibarat mimpi karena kita membayangkan sesuatu yang masih bersifat harapan. Visi adalah kemampuan untuk melihat apa yang saat ini belum terwujud. Kita akan bergairah mencapai visi kita, jika visi sesuai dengan misi hidup kita. Pada suatu saat visi berubah menjadi motivator yang begitu kuat, yang pada gilirannya menjadi “pembakar” semangat kita.

            Ciri Visi : terukur, fleksibel, terjangkau, menarik, jelas, Singkat.

            Cara membuat visi peran :

            Langkah I       : Menciptakan visi besar

            Langkah II     : Menciptakan visi peran kita

Langkah III    : Letakkan di tempat yang mudah dilihat atau mudah dibawa – bawa.

Tahapan IV

Membuat rencana Pekanan

“Waktu adalah kehidupan” (Hasan Al Banna)

Tiba saatnya untuk merealisasikan apa telah dibuat. Pada tahapan ini, kita akan mendapatkan manfaat tentang bagaimana caranya menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan, yang merupakan sasaran menengah. Sebelumnya, harus diketahui terlebih dahulu sifat waktu: waktu tidak dapat diganti, waktu adalah melenakan, dan waktu adalah momen. Akan menimbulkan dampak pengaturan waktu yang buruk jika kita tidak mampu menyesuaikan antara waktu dengan misi dan visi peran kita. Oleh karena itu, diperlukan matrik manajemen waktu untuk mempermudah pembuatan rencana pekanan.

Tahapan V

Membuat rencana Harian

Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa yang ahri ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia beruntung”. (Al – Hadits)

”Salah satu hal yang paling tragis yang saya ketahui mengenai sifat manusia adalah bahwa kita semua cenderung menyia – nyiakan waktu sepanjang kehidupan ini. Kita seringkali hanyut memimpikan taman bunga mawar surgawi di atas cakrawala sana, dan bukannya menikmati keindahan bunga mawar yang sedang berkembang di luar jendela kamar pada pagi hari ini”.(Dale Carnegie).

“Apabila Anda ingin membuat pekerjaan yang ringan menjadi pekerjaan yang nampak berat, tunda saja pelaksanaan pekerjaan itu”. (Ohlin Miller)

Setelah kita mengisi lembar waktu pekanan, maka kita perlu membuat rencana harian. Rencana harian adalah pencapaian dari hari ke hari visi peran kita. Ia merupakan langkah – langkah kecil tanpa penundaan menuju terwujudnya misi dan visi besar kita.

 

 



Humor Cerdas Ala Orang - oraNg ceRdiK
July 20, 2007

Muhammad Ibn Ka’ab al - Qiradhy menceritakan :

Seorang lelaki mengadu kepada Nabi Sulaiman a.s. " Ya Nabi Alloh, seorang tetanggaku telah mencuri angsaku, " ujarnya.

Lalu, Nabi Sulaiman a.s. pun menyeru, " Wahai orang - orang, marilah kita sholat berjamaah ! "

Seusai sholat, Nabi Sulaiman menyampaikan khutbah kepada mereka. Kemudian, di tengah - tengah khutbahnya itu ia berkata " Salah seorang di antara kalian telah mencuri angsa tetangganya dan kemudian masuk ke masjid ini dengan bulu angsa itu di atas kepalanya!

Suntak, seorang lelaki langsung mengusap kepalanya. Begitu melihatnya, Sulaiman a.s. berkata, " Tangkap dia, dialah teman kalian yang mencuri itu! "

<< HumoR Ke - 1 >>